HIDROLISIS
1.
Pengertian
Hidrolisis
Pada
bab larutan asam basa, dijelaskan bahwa reaksi antara asam dan basa akan
menghasilkan garam dan reaksinya disebut dengan reaksi penetralan. Karena
penjelasan tersebut banyak yang menyebutkan bahwa sifat garam adalah netral
atau memiliki nilai pH=7,00. Namun pada kenyataannya banyak kita jumpai
garam-garam yang mempunyai nilai pH>7,00 atau pH<7,00, itu artinya garam
tersebut tidak bersifat netral.
Perbedaan
sifat suatu garam disebabkan reaksi antara ion-ionnya dengan molekul-molekul
air. Jika suatu garam dilarutkan dalam air, maka garam akan terurai membentuk
ion-ionnya yang dapat bergerak bebas di dalam larutan. Pada keadaan tertentu
ion-ion tersebut dapat berperilaku sebagai asam atau basa, bergantung pada
sifat ion-ion yang terdapat dalam larutan. Jika ion-ion ditambahkan kedalam air
murni, ion-ion ini akan memasuki suatu lingkungan air, dimana molekul air
berada dalam keadaan kesetimbangan dengan ion hidronium dan ion hidroksida
sebagai hasil dari swaionisasi air. Persamaan reaksi swaionisasi air :
H2O(l) --> H+(aq)
+ OH–(aq) atau
2H2O(l) --> H3O+(aq)
+ OH–(aq)
Penambahan
garam dapat mempengaruhi kesetimbangan swaionisasi air. Garam-garam yang
terlarut di dalam air mungkin terhidrasi atau terhidrolisis. Suatu garam
dikatakan terhidrasi di dalam pelarut air jika ionionnya dikelilingi oleh
molekul air akibat antaraksi dipol antara ion-ion garam dan molekul air.
Antaraksi ion-ion garam dan molekul air membentuk kesetimbangan namun tidak
memengaruhi pH larutan. Suatu garam
dikatakan terhidrolisis di dalam pelarut air jika ionionnya bereaksi dengan
molekul air. Reaksi ion-ion garam dan air membentuk kesetimbangan yang
memengaruhi pH larutan.
a. Hidrasi Kation dan Anion
Hidrasi
kation terjadi karena adanya antaraksi antara muatan positif kation dan
pasangan elektron bebas dari atom oksigen dalam molekul air. Kation yang dapat
dihidrasi adalah kation-kation lemah, seperti ion kalium (K+), yaitu
kation yang memiliki ukuran besar dengan muatan listrik rendah atau kation yang
memiliki polarisasi rendah. Kation seperti ini memiliki kemampuan
mempertahankan lingkungan molekul air secara lemah, sehingga molekul air tetap
bergerak secara bebas dalam kesetimbangannya. Kation-kation seperti ini berasal
dari basa kuat, seperti Na+, K+, dan Ca2+. Contohnya:
K+(aq) + nH2O(l) --> [K(H2O)n]+
Anion-anion yang dihidrasi adalah anion dari asam kuat,
sehingga tidak dapat mempertahankan proton dari molekul air. Anion-anion ini
dihidrasi melalui antaraksi dengan atom hidrogen dari air. Misalnya:
NO2- (aq) + mH2O(l) --> [NO3(H2O)m]–
b. Hidrolisis Kation dan Anion
Kation-kation garam yang berasal dari basa lemah di dalam
air dapat mengubah larutan menjadi asam, seperti Al3+, NH4+,
Li+, Be2+ dan Cu2+. Karena kation-kation
tersebut mempunyai muatan yang besar, maka dapat menarik gugus OH–
dari molekul air dan meninggalkan sisa proton (H+) sehingga larutan
bersifat asam. Reaksi antara H2O dan kation logam membentuk
kesetimbangan. Dalam hal ini, molekul H2O berperan sebagai basa
Lewis atau akseptor proton menurut Bronsted-Lowry. Contohnya:
NH4+(aq)
+ H2O(l) --> NH3(aq) + H3O+(aq)
Al3+(aq)
+ 3H2O(l) --> Al(OH)3(aq)
+ 3H+(aq)
Anion-anion hasil pelarutan garam yang berasal dari asam
lemah dapat mengubah pH larutan menjadi bersifat basa karena bereaksi dengan
molekul air. Anion-anion seperti ini mempunyai muatan negatif yang besar, maka
dapat menarik proton (H+) dari molekul air dan meninggalkan sisa ion
OH– yang menyebabkan larutan garam bersifat basa. Contohnya:
F–(aq) + H2O(l) --> HF(aq) + OH–(aq)
CN–(aq) + H2O(l) --> HCN(aq) + OH–(aq)
Semua
garam yang anionnya berasal dari asam lemah, seperti CH3COONa, KCN,
NaF, dan Na2S akan terhidrolisis ketika dilarutkan di dalam air
menghasilkan larutan garam yang bersifat basa. Reaksi kation atau anion dengan molekul air disebut hidrolisis. Dengan kata lain, hidrolisis adalah
reaksi ion dengan air yang menghasilkan basa konjugat dan ion hidronium atau
asam konjugat dan ion hidroksida
2.
Jenis-jenis
garam
Semua
garam yang larut dalam air akan terionisasi membentuk ionionnya. Ion-ion yang
dihasilkan dalam larutan tersebut dapat mengalami reaksi hidrolisis. Reaksi
hidrolisis yang terjadi dapat mengubah sifat larutan.
a.
Garam
yang berasal dari asam kuat dan basa kuat
NaCl adalah salah
satu contoh garam yang terbentuk dari asam kuat dan basa kuat. Ketika
dilarutkan dalam air, garam NaCl akan terionisasi menjadi ion Na+
dan ion Cl-. Ion Na+ adalah kation yang berasal dari
suatu basa kuat. Ion-ion ini mempunyai ukuran yang relatif besar, namun
muatannya kecil sehingga ketika dilarutkan dalam air, ion-ion ini tidak
memiliki kemampuan untuk menarik ion H+ dari molekul air. Ion Cl-
adalah anion yang berasal dari asam kuat. Ion-ion ini mempunyai ukuran yang
relatif besar, namun muatannya kecil sehingga ketika dilarutkan dalam air,
ion-ion ini tidak memiliki kemampuan untuk menarik ion OH- dari
molekul air. Oleh karena ion-ion dari garamnya tidak ada yang bereaksi dengan
molekul air, maka garam-garam seperti ini tidak dapat mengalami hidrolisis
ketika dilarutkan dalam air. Selain itu, karena tidak adanya perubahan
konsentrasi ion H+ dan ion OH- dalam larutan, maka
larutan cenderung bersifat netral.
b.
Garam
yang berasal dari asam kuat dan basa lemah
NH4Cl
adalah salah satu contoh garam yang terbentuk dari asam lemah dan basa kuat.
Ketika dilarutkan dalam air, garam NH4Cl akan terionisasi menjadi
ion NH4+ dan ion Cl-. Ion Cl-
adalah anion yang berasal dari suatu asam kuat. Ion-ion ini mempunyai ukuran
yang relatif besar, namun muatannya kecil sehingga ketika dilarutkan dalam air,
ion-ion ini tidak memiliki kemampuan untuk menarik ion H+ dari
molekul air. Ion NH4+ adalah kation dari suatu basa
lemah, ion ini memiliki ukuran yang relatif kecil dan muatannya besar, sehingga
ketika dilarutkan dalam air ion ini mudah menarik ion OH- dari
molekul air atau dengan kata lain bereaksi dengan molekul air. Karena dalam larutan
mengalami pengurangan jumlah ion OH+ (terjadi pebambahan ion H+/
nilai pH berkurang) maka larutan cenderung bersifat asam. Persamaan reaksi
hidrolisis NH4Cl :
c.
Garam
yang berasal dari asam lemah dan basa kuat
CH3COONa
adalah salah satu contoh garam yang terbentuk dari asam lemah dan basa kuat.
Ketika dilarutkan dalam air, garam CH3COONa akan terionisasi menjadi
ion Na+ dan ion CH3COO-. Ion Na+
adalah kation yang berasal dari suatu basa kuat. Ion-ion ini mempunyai ukuran
yang relatif besar, namun muatannya kecil sehingga ketika dilarutkan dalam air,
ion-ion ini tidak memiliki kemampuan untuk menarik ion OH- dari
molekul air. Ion CHCOO- adalah anion dari suatu asam lemah, ion ini
memiliki ukuran yang relatif kecil dan muatannya besar, sehingga ketika
dilarutkan dalam air ion ini mudah menarik ion H+ dari molekul air
atau dengan kata lain bereaksi dengan molekul air. Karena dalam larutan
mengalami pengurangan jumlah ion H+ (nilai pH bertambah) maka
larutan cenderung bersifat basa. Persamaan reaksi hidrolisis CH3COONa
:
CH3COONa --> 2Na+
(aq) + CO32- (aq)
CH3COO-
(aq) + H2O(l) --> CH3COOH
(aq) + OH- (aq)
d.
Garam
yang berasal dari asam lemah dan basa lemah
CH3COONH4
adalah salah satu contoh garam yang berasal dari asam lemah dan basa
lemah. Ketika dilarutkan dalam air, garam CH3COONH4 akan
terionisasi menjadi ion CH3COO- dan ion NH4+.
Kedua ion ini ketika dilarutkan dalam air sama-sama akan bereaksi dengan
molekul air atau mengalami hidrolisis. Untuk menentukan sifat garam tersebut
dapat dilakukan dengan membandingkan harga Ka untuk ion asam
konjugat terhadap harga Kb dari ion basa konjugat Jika nilai Ka
lebih besar darinilai Kb, larutan akan bersifat asam. Sebaliknya,
jika nilai Kb lebih besardari nilai Ka, larutan akan
bersifat basa. Jika nilai Ka dan nilai Kb sama,larutan
bersifat netral
Tidak ada komentar:
Posting Komentar